Sabtu, 28 Juli 2012

Jurnalistik Islam


PENDAHULUAN

Di era globalisasi seperti sekarang ini, dimana setiap negara berlomba-lomba untuk mendistribusikan produk-produk mereka secara bebas di dunia, perkembangan teknologi menjadi peran utama. Akses informasi yang bergerak begitu cepat, menyebabkan manusia memanfaatkan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan. Pemanfaatan teknologi yang begitu besar dalam kehidupan manusia telah membawa manusia menjadi pribadi-pribadi instan, sehingga pola pikir manusia menjadi pragmatis. Pribadi-pribadi yang telah terkontaminasi dengan hegemoni teknologi, yang banyak dihasilkan oleh bangsa barat, berubah menjadi pribadi yang tidak lagi memperhatikan etika, moral, dan akhlak, karena pengaruh kapitalisme dan sekulerisme terwujud dalam sebuah teknologi.

Kesenjangan yang terpaut jauh antara informasi Media Masa Barat dan Timur, jelas tampak sekali dari produk informasi yang dihasilkan. Media Masa Barat lebih cenderung kepada hingar-bingar kebebasan, kapitalisme dan sekulerisme. Hal ini sangat mempengaruhi Media Massa Timur, yang dahulu sangat terkenal dari sisi-sisi etikanya. Perubahan semacam ini seharusnya disadari oleh insan jurnalis dalam memperoleh informasi supaya tidak memberikan efek negatif kepada masyarakat yang memperoleh informasi tersebut.
Pengaruh-pengaruh negatif Barat yang menyebar melalui Media massa, yang dengan teknologi dapat secara mudah disebar via Media IT seperti sekarang ini, mendorong perlunya memunculkan wacana keislaman melalui media IT. Jurnalis mempunyai peran penting dalam memberikan akses informasi kepada masyarakat yang sejatinya masih terbelenggu dan terjebak dalam hegemoni barat yang cenderung negatif. Sebagai mana hadist nabi yang mengatakan ? Sampaikanlah dariku walau satu ayat..? jelas sekali bahwasanya alternatife wacana keilmuan dan dakwah salah satunya terletak pada keberadaan jurnalisme islam.

PEMBAHASAN

Jurnalistik Islami adalah dapat dirumuskan sebagai suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam kepada khalayak melalui media massa.
Dapat juga jurnalistik Islami dimaknai sebagai “proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat muatan dan sosialisasi nilai- nilai Islam”. Dengan demikian, jurnalistik Islami dapat dikatakan sebagai crusade journalism, yaitu jurnalisme yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, dalam hal ini nilai-nilai Islam.
Jurnalistik Islami pun bernafaskan jurnalisme profetik, suatu bentuk jurnalisme yang tidak hanya melaporkan berita dan masalah secara lengkap, jelas, jujur, serta aktual, tetapi juga memberikan interpretasi serta petunjuk ke arah perubahan, transformasi, berdasarkan cita-cita etik dan profetik Islam. Ia menjadi jurnalisme yang secara sadar dan bertanggungjawab memuat kandungan nila-nilai dan cita Islam
Di antara makna jurnalistik yang dikemukan para pakar dan tokoh jurnalistik secara istilah ialah suatu kepandaian praktis, mengedit berita untuk pemberitaan dalam surat kabar atau majalah. Ada pula yang memaknai jurnalistik sebagai teknik mengelola berita sejak dari mendapatkan bahan sampai kepada penyebarluasannya kepada khalayak.
Dari definisi-definisi tersebut, maka jurnalistik bisa dipahami sebagai suatu pengelolaan laporan harian agar menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia, apakah itu peristiwa faktual (berita, news) atau pendapat seseorang (opini). Singkatnya, kegiatan jurnalistik itu meliputi kegiatan mengumpulkan, menyiapkan, menuliskan, dan menyebarkan informasi berupa berita, feature, dan opini melalui media massa.
Lalu, bagaimana jika jurnalistik dikaitkan dengan agama atau dilihat dari perspektif Islam, yang selanjutnya disebut sebagai jurnalistik Islam atau jurnalistik islami.
Pada prinsipnya jurnalistik Islam adalah suatu aktivitas yang terdiri dari proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa atau pendapat dengan muatan nilai-nilai keislaman (dakwah), didasarkan pada (mematuhi) kaidah-kaidah jurnalistik/norma-norma yang bersumber dari Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Karena itu, maka jurnalistik Islam ialah jurnalistik yang mengemban misi “amar ma’ruf nahi munkar” (QS. Ali Imran 104), dengan misi utamanya menyebarluaskan informasi-informasi tentang ajaran Islam.
Prinsip itu didasarkan atas makna jurnalistik Islam yang disampaikan berbagai tokoh seperti Emha Ainun Nadjib, Dedy Djamaluddin Malik, Asep Syamsul Romli, dan lain-lain.
Emha yang dikenal dengan Caknun menyebutkan, jurnalistik Islam adalah sebuah teknologi dan sosialisasi informasi (dalam kegiatan penerbitan tulisan) yang mengabdikan diri kepada nilai-nilai Islam, bagaimana dan ke mana semestinya manusia, masyarakat, kebudayaan, dan perabadan mengarahkan dirinya.
Selanjutnya, Djamaluddin Malik, mendefinisikan jurnalistik Islam sebagai aktivitas yang terdiri dari proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai berita tentang peristiwa yang menyangkut umat Islam dan ajaran Islam kepada khalayak. Sedangkan Asep Romli tidak menyebutkan istilah jurnalistik Islam, tapi menggunakan istilah jurnalistik Islami.
Menurut Asep Romli, jurnalistik Islami bisa dirumuskan sebagai suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan nilai-nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam. Jurnalistik Islami juga bisa dimaknai sebagai
Undang Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik dan peraturan perundangan lainnya termasuk beberapa bagian KUHP, bukan semata-mata menjadi alat bagi seorang jurnalis untuk menjamin kebebasan aktivitas mereka sebebas-bebasnya, tapi merupakan rambu-rambu sekaligus tujuan mulia yang diemban oleh dunia jurnalistik kita. Kebebasan itu diberikan bertujuan agar dunia jurnalistik kita mampu memenuhi kebutuhan bangsa akan informasi, pendidikan, hiburan, dan control social di masyarakat, serta berparan dalam memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, mendorong terwujudnya supremasi hokum, melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan menyampaikan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan lain sebagainya.
Kita patut sadari memang regulasi yang ada belum benar-benar cukup memadai untuk mencapai tujuan mulia di atas jika memang kemudian hokum dan etika tersebut benar-benar ditegakkan. Namun juga bukan berarti kemudian tidak mampu kita lakukan.
Tidak dapat dipungkiri bahwasannya Indonesia yang sebagian besar penduduknya adalah seorang muslim tentunya memiliki mayoritas pelaku-pelaku jurnalistiknya juga merupakan seorang muslim. Tapi yang kemudain menjadi masalah di sini adalah sampai saat ini belum ada petunjuk, arahan, informasi yang mampu mengantar para jurnalis untuk dapat melihat korelasi hubungan antara peran jurnalistik yang diemban dengan ketentuan-ketentuan syari’ah muamalah yang harus dipegang mereka sebagai pribadi seorang muslim. Disadari atau tidak itulah yang dirasakan saat ini. Padahal jika kemudian hal ini secara sadar kita pahami sebagai sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam dunia jurnalistik kita niscaya tujuan mulia yang diemban akan mampu dengan baik kita capai bersama.
Islam sebagai agama yang syamil mutakamil mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di dunia, tidak terkecuali pada bagaimana dunia jurnalistik yang ada. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an terpampang jelas akan bagaimana etika seorang jurnalis dalam mentikapi sebuah berita yang muncul dihadapan mereka. Salah satu diantaranya termaktub dalam firman ALLAH surat Al-Hujurat ayat enam yang berbunyi:
“hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”
Ayat di atas mengatur secara singkat bagaimana sikap kita baik sebagai seorang jurnalis atau masyarakat umum sekalipun dalam menyikapi berita yang kita dapat dari sumber-sumber yang terkait. Kewajiban kita disitu setelah mendapatkan sebuah berita adalah bagaimana kemudian mengkroscek pemberitaan yang muncul dengan baik agar kemudain tidak malah menimbulkan kerugian bagi orang lain atau bahkan menimbulkan musibah bagi orang lain baik dalam individu maupun kelompok.
Itu adalah sebagian kecil hukum-hukum syaria’ah muamalah yang mengatur bagaimana etika kita dalam aktivitas dunia jurnalistik yang seharusnya dipegang untuk mencapai peran jurnalistik yang lebih baik. Baik di hadapan manusia maupun di hadapan ALLAH. Hingga pada akhirnya saya mengajak pembaca sekalian untuk tidak lagi kemudian mengkotak-kotakkan kedua hal tersebut (syari’ah dan jurnalistik) dalam dua focus yang berbada melainkan menyikapi dunia jurnalistik kita sebagai bagian yang integral dengan peran kita sebagai pribadi muslim yang sejati.
Islam adalah nilai dan tatanan yang diwahyukan Allah Swt untuk kemanusiaan. Islam lebih merupakan jiwa bagi pers atau jurnalisme, bukan salah satu mazhab atau teori bagi jurnalisme. Karena itu tidak perlu ada istilah Jurnalisme Islam, sebagai mazhab. Kalaupun ada, mungkin lebih tepat diartikan sebagai Jurnalisme tentang Islam atau tentang orang-orang Islam. Atau Jurnalisme Islam diartikan sebagai jurnalisme yang berintegrasi dengan nilai keislaman. Yaitu ketauhidan dan kemanusiaan. Ketauhidan yang memuliakan kemanusiaan, dan kemanusiaan yang tetap mengagungkan ketuhanan.
Kita bisa mengambil inspirasi dari empat sifat Rasul; shiddiq (jujur dan dipercaya), amanah (pertanggung-jawaban), tabligh (menyampaikan semua tanpa ada yang disembunyikan) dan fathonah (cerdas dan mencerdaskan), ketika kita mencoba membicarakan nilai keislaman dalam jurnalisme. Pembicaraan ini sebagai salah satu upaya kita menuntut pers dan media untuk memiliki pertanggung-jawaban sosial, dalam melakukan kerja-kerja jurnalisme. Tidak hanya menguntungkan diri sendiri dengan pengumpulan modal, atau menguntungkan pihak politik tertentu, penguasa, kelompok atau orang tertentu.
Pers harus memiliki komitmen untuk memegang amanah ‘kemanusiaan’ sebagai amanah Islam. Mungkin masih perlu waktu panjang untuk membicarakan nilai-nilai kemanusiaan yang harus diemban pers. Tetapi setidaknya, pers harus mendasarkan pada keadilan, tidak mencederai kemanusiaan dan tidak bermaksud secara sengaja menghancurkan kelompok tertentu tanpa memberikan hak jawab sama sekali. Pers harus memiliki komitmen yang kuat dan dikontrol oleh publik, untuk memberikan pendidikan publik; pendidikan orang dewasa yang tidak memaksa dan tidak menggurui. Salah satu prinsip yang harus dipegang juga; tidak menyalahkan korban apalagi mencederai dan melecehkan. Karena dalam kehidupan yang kapitalistik ini, korban seringkali tidak lagi memiliki pilihan-pilihan bebas untuk kemuliaan dirinya. Ketika korban mengalami persoalan dalam relasinya dengan mereka yang lebih kuat, pers sebisa mungkin memberikan komitmen untuk pembelaan dan pemulihan. Ini yang harus menjadi kesadaran bagi pers ketika melakukan kerja-kerja jurnalisme. Mulai dari pengumpulan data sampai pemberitaan kepada publik. Inilah yang mungkin bisa kita sebut sebagai Jurnalisme Kemanusiaan Islam. Setidaknya adalah sebagai gambaran awal.



KESIMPULAN

Dalam proses membangun kesadaran intrinsik media inilah kita perlu memahami etika jurnalistik atau dalam istilah lain, akhlak jurnalistik. Akhlak dalam konteks ini, secara luas dapat diartikan sebagai sekumpulan nilai-nilai positif yang diterima oleh publik secara luas, atau katakanlah mayoritas masyarakat.

Dengan kata lain, sekumpulan prinsip-prinsip moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat umum. Dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, akhlak Islam atau populer dengan istilah akhlakul karimah (Arab: akhlak yang mulia), semestinya menjadi landasan bagi insan pers. Sebab, pers tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianut masyarakatnya, tempat ia bertugas melayani, sekaligus menjadi penyambung lidah masyarakat.

Akhlakul karimah ini bisa diterapkan dalam banyak persoalan peliputan maupun pelaporan berita hingga penulisan opini. Sebagai contoh, penulisan tema-tema aliran sesat dapat dilakukan dengan bahasa ajakan untuk kembali ke jalan yang benar, tanpa mengaburkan prinsip-prinsip kebenaran. Jika itu terkait pada kasus penodaan agama, maka penyelesaian secara hukum dapat disarankan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku di negeri ini, sembari menentang upaya-upaya penyelesaian yang mengundang kekerasan. Dengan begitu, media dapat menampilkan dirinya sebagai sebuah institusi publik yang selalu positif dan solutif.


DAFTAR PUSTAKA

ASM. Romli, Jurnalistik untuk Pemula Cet. VI (Rosda 2005); ASM. Romli, Jurnalistik Dakwah (Rosda 2004), dan Jurnalistk Terapan (Batic Press 2005).*

Ali Khumaini, Jurnalisme islam 2005-Jawa Barat

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
“JOURNALIST COMMUNICATION. AST PT INDOMARCO PRISMATAMA, Utan Kayu I, Jakarta Timur.| Buaran Viktor, Tangerang Selatan.| Kemangi, M.Yamin 82, Wahid Hasyim, Padat Karya, Samarinda. Contac Manajer : 085250550100. PIN 2AB515BE.